CLOCKS

BERSATULAH BANGSAKU, HINDARI PERPECAHAN !

MARI KITA TINGKATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA

SELAMAT DATANG DI BLOG INI di blog ini

KEIMANAN SEORANG SERING TURUN DAN NAIK, BAGAIMANA CARANYA MENINGKATKAN KEIMANAN ITU?

Senin, 14 Maret 2011

HAKEKAT DAN KEDUDUKAN TAUHID


Tauhid merupakan kewajiban utama dan pertama yang diperintahkan Alloh kepada setiap hamba-Nya. Namun, sangat disayangkan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang ini tidak mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Padahal tauhid inilah yang merupakan dasar agama kita yang mulia ini. Oleh karena itu sangatlah urgen bagi kita kaum muslimin untuk mengerti hakekat dan kedudukan tauhid. Hakekat tauhid adalah mengesakan Alloh. Bentuk pengesaan ini terbagi menjadi tiga, berikut penjelasannya.
Mengesakan Alloh dalam Rububiyah-Nya
Maksudnya adalah kita meyakini keesaan Alloh dalam perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Alloh, seperti mencipta dan mengatur seluruh alam semesta beserta isinya, memberi rezeki, memberikan manfaat, menolak mudharat dan lainnya yang merupakan kekhususan bagi Alloh. Hal yang seperti ini diakui oleh seluruh manusia, tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Orang-orang yang mengingkari hal ini, seperti kaum atheis, pada kenyataannya mereka menampakkan keingkarannya hanya karena kesombongan mereka. Padahal, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka mengakui bahwa tidaklah alam semesta ini terjadi kecuali ada yang membuat dan mengaturnya. Mereka hanyalah membohongi kata hati mereka sendiri. Hal ini sebagaimana firman Alloh “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). (Ath-Thur: 35-36)
Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis tauhidini. Sebagaimana firman Alloh, “Katakanlah: ‘Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang memiliki ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Alloh.’ Katakanlah: ‘Maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (Al-Mu’minun: 86-89). Dan yang amat sangat menyedihkan adalah kebanyakan kaum muslimin di zaman sekarang menganggap bahwa seseorang sudah dikatakan beragama Islam jika telah memiliki keyakinan seperti ini. Wallohul musta’an.
Mengesakan Alloh Dalam Uluhiyah-Nya
Maksudnya adalah kita mengesakan Alloh dalam segala macam ibadah yang kita lakukan. Seperti shalat, doa, nadzar, menyembelih, tawakkal, taubat, harap, cinta, takut dan berbagai macam ibadah lainnya. Dimana kita harus memaksudkan tujuan dari kesemua ibadah itu hanya kepada Alloh semata. Tauhid inilah yang merupakan inti dakwah para rosul dan merupakan tauhid yang diingkari oleh kaum musyrikin Quraisy. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Alloh mengenai perkataan mereka itu “Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu Sesembahan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (Shaad: 5). Dalam ayat ini kaum musyrikin Quraisy mengingkari jika tujuan dari berbagai macam ibadah hanya ditujukan untuk Alloh semata. Oleh karena pengingkaran inilah maka mereka dikafirkan oleh Alloh dan Rosul-Nya walaupun mereka mengakui bahwa Alloh adalah satu-satunya Pencipta alam semesta.
Mengesakan Alloh Dalam Nama dan Sifat-Nya
Maksudnya adalah kita beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh. Dan kita juga meyakini bahwa hanya Alloh-lah yang pantas untuk memiliki nama-nama terindah yang disebutkan di Al-Qur’an dan Hadits tersebut (yang dikenal dengan Asmaul Husna). Sebagaimana firman-Nya“Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna.” (Al-Hasyr: 24)
Seseorang baru dapat dikatakan seorang muslim yang tulen jika telah mengesakan Alloh dan tidak berbuat syirik dalam ketiga hal tersebut di atas. Barangsiapa yang menyekutukan Alloh (berbuat syirik) dalam salah satu saja dari ketiga hal tersebut, maka dia bukan muslim tulen tetapi dia adalah seorang musyrik.
Kedudukan Tauhid
Tauhid memiliki kedudukan yang sangat tinggi di dalam agama ini. Pada kesempatan kali ini kami akan membawakan tentang kedudukan Tauhid Uluhiyah (ibadah), karena hal inilah yang banyak sekali dilanggar oleh mereka-mereka yang mengaku diri mereka sebagai seorang muslim namun pada kenyataannya mereka menujukan sebagian bentuk ibadah mereka kepada selain Alloh, baik itu kepada wali, orang shaleh, nabi, malaikat, jin dan sebagainya.
Tauhid Adalah Tujuan Penciptaan Manusia
Alloh berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.”(Adz-Dzariyat: 56) maksud dari kata menyembah di ayat ini adalah mentauhidkan Alloh dalam segala macam bentuk ibadah sebagaimana telah dijelaskan oleh Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhu, seorang sahabat dan ahli tafsir. Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Alloh saja. Tidaklah mereka diciptakan untuk menghabiskan waktu kalian untuk bermain-main dan bersenang-senang belaka. Sebagaimana firman Alloh “Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian.” (Al Anbiya: 16-17). “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu’minun: 115)
Tauhid Adalah Tujuan Diutusnya Para Rosul
Alloh berfirman, “Dan sungguh Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh, dan jauhilah Thaghut itu’.” (An-Nahl: 36). Makna dari ayat ini adalah bahwa para Rosul mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi terakhir Nabi kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam diutus oleh Alloh untuk mengajak kaumnya untuk beribadah hanya kepada Alloh semata dan tidak memepersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Maka pertanyaan bagi kita sekarang adalah “Sudahkah kita memenuhi seruan Rosul kita Muhammad shollallohu alaihi wa sallam untuk beribadah hanya kepada Alloh semata? ataukah kita bersikap acuh tak acuh terhadap seruan Rosululloh ini?” Tanyakanlah hal ini pada masing-masing kita dan jujurlah…
Tauhid Merupakan Perintah Alloh yang Paling Utama dan Pertama
Alloh berfirman, “Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (An-Nisa: 36). Dalam ayat ini Alloh menyebutkan hal-hal yang Dia perintahkan. Dan hal pertama yang Dia perintahkan adalah untuk menyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Perintah ini didahulukan daripada berbuat baik kepada orang tua serta manusia-manusia pada umumnya. Maka sangatlah aneh jika seseorang bersikap sangat baik terhadap sesama manusia, namun dia banyak menyepelekan hak-hak Tuhannya terutama hak beribadah hanya kepada Alloh semata.
Itulah hakekat dan kedudukan tauhid di agama kita, dan setelah kita mengetahui besarnya hal ini akankah kita tetap bersikap acuh tak acuh untuk mempelajarinya?
***
Penulis: Abu Uzair Boris Tanesia
Artikel
 www.muslim.or.id
·          
·          
·          

MENGHEMAT DAN MEMANFAATKAN WAKTU


1.Mengahafal dan mempelajari kitabullah
Allah SWT berfirman, artinya: ” Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Fathir: 30)
Rasulullah bersabda, artinya: “Sebaik-baik Tanggal Penulisan August 10, 2007 | Kategori AKHLAK, AQIDAH, IBADAH
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata tentang amal yang paling utama: “Yaitu yang lebih tinggi nilai ketundukannya kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi hamba”.
Berikut ini adalah beberapa kiat mengisi waktu luang dan dimulai dari yang utama kemudian berangsur kalian adalah yang belajar Al-Qur’an kemudian mengajarkannya” . (HR. Al-Bukhari)
Rasulullah juga bersabda, artinya: “Kepada Ahli Al-Qur’an dikatakan, “bacalah dan naiklah! Urutkan sebagaimana engkau mengurutkan di dunia, maka sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca”. (HR. Abu Daud, hasan shahih)
Allah SWT memudahkan Anda yang mau menghafal sebagaimana firman-Nya, artinya:
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran” (Al-Qomar:17) )
2.Membaca buku/kitab yang bermanfaat
Allah SWT berfirman, artinya: “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang berilmu beberapa derajat” (QS: Al-Mujadilah: 11)
Rasulullah SAW bersabda, artinya: “Sesungguhnya penuntut ilmu dinaungi oleh para Malaikat dengan sayap mereka.” (Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)
Imam Ahmad berkata “Manusia lebih butuh kepada ilmu daripada kepada makan dan minum, karena seseorang butuh makan dan minum sehari sekali atau dua kali, sedang kebutuhannya pada ilmu adalah sejumlah nafasnya”.
3.Dzikrullah
Ia merupakan amalan yang mudah, tanpa biaya maupun susah payah, padahal pahala dan keutamaannya sangat banyak.
Allah SWT berfirman, artinya: “Ingatlah kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu” (Al-Baqarah: 152)
Rasul bersabda, artinya: “Maukah kalian kuberitahu amalan yang paling baik dan paling suci menurut Sang Pemilikmu, mengangkat derajatmu, lebih baik dari infak emas dan uang dan lebih baik dari beperang membunuh musuh kemudian kamu ditebas lehermu?
Mereka berkata “Ya, apakah itu Rasul? Beliau bersabda, “Yaitu dzikir kepada Allah Ta’ala” (HR. At-Tirmidzi)
Terutama dzikir pagi dan sore dan pada setiap memulai atau mengakhiri pekerjaan.
4.Jihad (wisata umat Islam)
Umat yang paling mulia ini memiliki rihlah dan tamasya yang sejati, sebagaimana sabda Nabi SAW , yang artinya: “Tamasya/pesiarnya umatku adalah berjihad (berjuang di jalan Allah)” (HR. Abu Daud dengan sanad shahih)
Rasul SAW juga bersabda: “Satu pagi atau satu sore hari di jalan Allah adalah lebih baik dari pada dunia dan isinya” (HR. Al-Bukhari)
Ia menjanjikan kemenangan dan kejayaan di dunia dan yang paling pasti di akhirat, dengan syahid tanpa hisab, tanpa siksa kubur, dan masuk surga.
Allah SWT berfirman, artinya: ” Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (Al-Anfal: 60)
5.Bekerjasama dalam berdakwah
Allah SWT berfirman, artinya: ” Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. 3:110)
Rasul SAW bersabda:”Siapa diantara kamu melihat kemungkaran hendaklah dia merubahnya dengan tangan, jika tidak mampu maka dengan lisan, jika tidak mampu maka dengan hati dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim)
Rasul SAW juga bersabda, artinya: “Sampaikan dariku meskipun satu ayat” (HR. Al-Bukhari)
Sungguh kita tahu bahwa musuh Islam telah mengatur siasat dan strategi dengan baik, maka wajiblah kita meningkatkan usaha keras kita membela agama Allah.
6.Menunaikan Amalan Sunnah
Amalan-amalan sunnah dapat melengkapi kekurangan pada ibadah yang wajib dan dapat mengangkat derajat di sisi Allah SWT.
Allah SWT berfirman (dalam hadits Qudsi), yang artinya: “Siapa yang memusuhi kekasih-Ku maka Aku umumkan perang kepadanya, tiada sarana pendekatan pada-Ku yang paling Aku cintai bagi hamba-Ku melebihi apa yang Aku wajibkan padanya. HambaKu tiada hentinya mendekati-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku menyintainya. ” (HR. Al-Bukhari)
Berusahalah semampu Anda untuk berlomba menunaikan amalan sunnah dari shalat, shadaqah, puasa dan lain-lain.
7.Menghadiri ceramah atau pengajian
Rasulullah SAW bersabda: “Tiadalah suatu kaum berkumpul di salah satu masjid Allah dengan membaca kitabullah dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali para malaikat
mengelilingi mereka, ketenangan turun kepada mereka dan rahmat tercurah, serta Allah membangga-banggakan mereka kepada malaikat yang ada disisi-Nya”. (HR. Muslim)
8.Ziarah Masjidil Haram dan Umrah
Rasulullah SAW bersabda: “Satu umrah ke umrah yang lain adalah pelebur (dosa) antara keduanya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Begitu besar pahala shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi melebihi masjid di seluruh dunia.
9.Mendengarkan kaset /CD
Baik itu ceramah keagamaan atau murattal Al-Qur’an, kemudian jika perlu dibuat catatan dan ringkasan yang rapi, ini sangat bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain.
10. Mengunjungi orang-orang shaleh di dalam atau di luar kota.
Rasulullah SAW mengisahkan: “Seorang menziarahi temannya di desa lain, di tengah perjalanan Allah mengutus malaikat menyertainya, datang dan bertanya: “Anda mau pergi kemana?”
Ia menjawab, “ke saudara di desa sana”, “Apakah karena satu kenikmatan yang Anda inginkan?
Ia menjawab: “Tidak, saya hanya menyintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”
Malaikat berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah (mengabarkan) sesungguh-nya Allah telah menyintai anda sebagaimana anda telah menyintainya karena Dia” (HR. Muslim)
11.Silaturrahim
Sanak kerabat, teman, dengan saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, mereka itulah yang di puji Allah SWT dalam firmanNya, “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk”. (QS. 13:21)
Rasullah SAW bersabda: “Siapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah dia bersilaturahim” (HR. Al-Bukhari Muslim)
12.Ziarah rumah sakit dan kuburan
Dimana kita dapatkan pahala yang agung, mendo’akan dan menghibur orang sakit, sedangkan tentang kuburan, Rasulullah SAW bersabda, artinya: “Ziarahi ia (kuburan), karena sesungguhnya ia mengingatkan kamu pada Akhirat” (HR.Muslim)
13.Mengadakan penelitian,
Menyusun ikhtisar dari suatu buku atau kaset atau bisa juga melakukan study lapangan mengenai berbagai perkembangan yang ada kemudian hasilnya kita berikan kepada pihak yang sekiranya membutuhkan, siapa tahu bisa dipublikasikan dan akan sangat banyak manfaatnya.
14.Membantu orang lain
Rasulullah SAW bersabda, artinya: “Jika seseorang kalian berjalan bersama saudaranya untuk memenuhi kebutuhan-nya dan menunjukkan dengan jarinya maka itu lebih utama dari pada ber’itikaf di dalam masjidku (An-Nabawi) ini selama dua bulan” (HR. At-Thabrani)
Beliau juga bersabda, artinya: “Siapa yang melepaskan kesulitan seseorang mukmin dari urusan dunia maka Allah melepaskannya dari kesulitan di hari Kiamat” (Muttafaq ‘alaihi)
15.Bepergian ke negara-negara Islam
Baik untuk tujuan dakwah, merenungi ciptaan Allah atau tujuan-tujuan lain yang dibolehkan. Selain itu juga dapat menghilangkan kepenatan, menambah relasi bisnis, ilmu dan budaya.
16.Membuka perpustakaan umum di masjid-masjid,
Kemudian menyelenggarakan seminar, forum-forum ilmiah, diskusi, majlis ta’lim atau halaqah disana yang ini semua akan menambah ilmu dan persaudaraan.
17.Kegiatan bisnis/berdagang dengan halal , itulah pencaharian Nabi, khalifah beliau Abu Bakar, Umar, Utsman dan lain-lain yang mulia.
Jangan sampai melakukan jual beli dengan cara-cara yang haram atau berdagang barang-barang yang dilarang.
Allah berfirman, artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu
beruntung”. (QS. 62:10)
18.Mengikuti kontrak kerja yang bermanfaat, pada lapangan kerja yang halal bukan subhat atau haram, dalam lingkungan dan aturan yang baik (sesuai dengan syariat).
Dengan niat yang ikhlas dan benar setiap usaha halal dapat bernilai ibadah.
19.Berlatih olah raga
Untuk menjaga kekuatan dan kesehatan tubuh dengan catatan tidak melalaikan dan tidak melanggar batasan syar’i, juga untuk persiapan berjuang di jalan Allah, serta ketangguhan jiwa, sebab sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Muslim bahwa bila jiwa lelah ia akan jemu/bosan, sesaat demi sesaat.
20.Mengikuti kursus-kursus, meskipun dengan mengeluarkan biaya, dan tentunya juga harus melihat kemampuan.
Manfaatnya jelas tidak diragukan seperti, agronomi, agro-bisnis, komputer, pertambangan, kelautan, kerajinan tangan/home industri, tata boga, merawat taman, yang mendatangkan manfaat dan rizki yang halal.
Kemudian jika anda ternyata memiliki bakat tertentu, seperti khot (menulis indah), pertukangan, percetakan sablon dan lain-lain ada baiknya bila dikembangkan.
Disarikan dari waqafat ma’a al-waqti wa kaifa istiqhlal al-faraagh, Abdul Ilah bin Ibrahim Dawud, oleh Waznin Mahfudz

Rabu, 15 Desember 2010

MENELANJANGI STRATEGI JIN, Aam Amiruddin


Menelanjangi Strategi JinAam Amiruddin, M.Si
Kode:K0021
Kategori:Dakwah
ISBN:-
Size:12 x 18 cm
Jml. Halaman:x + 160
Cetakan:
Harga:Rp. 27.500,-

Strategi jin telah terbongkar! Visi-misi, strategi, metode serta sarana yang mereka pergunakan untuk menyesatkan manusia telah diketahui. Sebuah research literature dan case study telah dilakukan untuk mengungkap fakta-fakta tersebut. Hasilnya, penelanjangan sebuah dunia yang selama ini dianggap terlalu menyeramkan untuk diketahui apalagi untuk diungkap kebenaran hakikatnya.

Dalam buku ini, Anda akan diajak 'melihat-lihat' potret kehidupan jin, potret kehidupan iblis dan setan, fenomena kemusyrikan, serta apa dan bagaimana sesungguhnya pengobatan dengan ruqyah. Perlu diketahui, jin itu bukan ilusi tapi realita. Mempercayainya tanpa dibimbing ilmu yang bersumber dari Al Quran dan sunah, dikhawatirkan akan menjerumuskan manusia pada kemusyrikan.

Ini mungkin tidak akan membuat mereka (jin) tinggal diam dan memang itulah yang akan selalu dilakukan. Jadi, tetap waspada

AddThis

MEMBONGKAR KESESATAN SYIAH (buku yg layak dibaca)


Membongkar Kesesatan SyiahSyeikh Muhammad Abdul Sattar At-Tunsawi
Kode:K0045
Kategori:Dakwah
ISBN:979-3838-13-2
Size:12 x 18 cm
Jml. Halaman:135
Cetakan:1
Harga:Rp. 24.500,-
Mereka memiliki Rukum Iman dan Rukun Iskam yang berbeda, begitu pula dengan kitab dan hadistnya.
Saat ini, bermunculan aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang kaffah. Walaupun ajarannya benar-benar menyimpang dari Al Qur'an dan As Sunnah mereka masih mengaku bahwa ajaran Islam yang mereka bawa adalah "Islam yang sebenarnya". Salah satunya adalah Syiah

Ajaran Syiah sangat menyimpang dari ajaran yang dibawa Rasululloh SAW. Mereka memiliki Rukum Iman dan Rukun Iskam yang berbeda, begitu pula dengan kitab dan hadistnya. Bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama syiah, Al Qur'an mereka pun berbeda dengan Al Qur'an yang diajarkan Rasululloh SAW.
AddThis

Satu Langkah Mudah Membaca Al-Quran
Yudi Imana

Kode:K0053
Kategori:Anak & Remaja
ISBN:-
Size:-
Jml. Halaman:78 + DVD
Cetakan:1
Harga:Rp. 49.000,-

Al-Quran merupakan pedoman hidup. Tapi hanya segelintir orang yang mampu membacanya dengan baik sesuai kaidah-kaidah ilmu tajwid, menghafal, dan memahaminya.

Bagaimana Al-Quran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim, bila membaca dan memahaminya saja tidak mampu? 191 juta jiwa penduduk muslim Indonesia dari total 220 juta jiwa penduduk Indonesia (64%) belum bisa membaca A-Quran. Sementara yang mampu membaca baru 36%, 16,8% sudah bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Dan yang bisa membaca, mentadaburi dan menafsirkannya baru sebesar 3,6%, sedangkan yang mampu mengamalkannya hanya 0,02%.

Tidak tahu persis apa gerangan penyebab maraknya buta huruf Al-Quran tersebut. Padahal saat ini, berbagai metode mempelajari Al-Quran telah berkembang dan tersebar di berbagai pelosok penjuru tanah air. Patut dijadikan bahan telaah, walaupun metode yang berkembang cukup banyak, namun hanya sedikit metode yang mampu dengan cepat difahami dan diaplikasikan. Sehingga penggunanya dalam waktu relatif singkat bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Berbeda dengan metode lain pada umumnya, kini telah hadir metode belajar Al-Quran terbaru dengan nama metode ‘Asyarah. Buku berjudul 1 langkah mudah membaca Al-Quran karya Ustadz. Yudi Imana ini diyakini mampu mengantarkan setiap orang agar mampu membaca Al-Quran secara cepat dan mudah. Selain itu, metode ini pun memiliki 9 keunggulan yang akan diperoleh, antara lain :

1. Serially, pembelajaran huruf hijaiyah dipelajari sesuai urutan tempat keluarnya bunyi huruf hijaiyyah.

2. Systematic, materi disusun secara bertahap dengan enam sesi pembelajaran.

3. Simple, materi disajikan lebih sederhana dengan menyajikan materi pokok-pokok dasar tilawah saja.

4. Interactive, menggunakan media DVD dalam pengajarannya.

5. Exercise, melatih materi yang telah dipelajari.

6. Rhytm, menggunakan irama khas dalam pembacaannya sesuai kaidah dasar tahsin tilawah.

7. Song, disertai dengan enam lagu pembantu dalam pembelajaran di kelas.

8. Standard, materi sudah melalui proses pentashihan sesuai standar.

9. Research, telah melalui proses penelitian para mahasiswa dalam penyusunan skripsi dan mendapat dari para ahli dibidangnya.

Anda penasaran untuk segera membuktikan betapa mudahnya belajar Al-Quran dengan menggunakan metode ‘Asyarah? Miliki bukunya dan Anda pun akan segara menjadi sahabat Al-Quran. Amin. (Sunaryo)

AddThis
Melihat Allah di Sinai
Empatratus kilometer ke arah tenggara Kairo, setelah melintasi terusan Suez, kita akan sampai di Semenanjung Sinai.


Empatratus kilometer ke arah tenggara Kairo, setelah melintasi terusan Suez, kita akan sampai di Semenanjung Sinai. Di sana, ada sebuah gunung menjulang setinggi 2642 meter bernama Jabal Katharina.

Di lerengnya, ada biara tertua yang dibangun tahun 331 M, Monastery St. Catharine. Yang menarik, di dekatnya ada lagi gunung yang lebih rendah. Tingginya 2285 meter. Gunung ini bernama Jabal Musa. Kita harus mendaki malam hari agar bisa mencapai puncaknya di pagi hari, untuk menyaksikan pemandangan yang sangat mencekam. Batu-batu hitam raksasa di puncaknya tampak meleleh membeku seolah bersujud. Konon, di puncak inilah Nabi Musa a.s. memohon agar bisa melihat Allah.

Peristiwa ini diabadikan dalam surat Al A’raf (7) ayat 143, “Dan tatkala Musa tiba di miqat lalu berkata, ‘Tuhanku, tampakkanlah diri-Mu supaya aku bisa melihat-Mu.’ Maka Tuhan pun berkata, ‘Kamu tidak akan bisa melihat-Ku , tetapi pandang saja gunung di seberangmu, bila dia tetap di tempatnya, maka kamu akan melihat-Ku’. Maka ketika Tuhannya menampakkan cahaya-Nya ber-tajalli kepada gunung, jadilah gunung itu hancur lebur. Maka Musa tersungkur pingsan. Dan setelah siuman dia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku akan menjadi orang mukmin pertama’.”

Kisah ini tercantum juga dalam kitab Qishashul Anbiya’ karangan Ibnu Katsir yang mencoba menjelaskan bahwa Nabi Musa a.s. adalah Kalimullah, orang yang mampu berbicara langsung dengan Allah. Namun dia hanya mendengar suara Allah dari balik hijab. Ketika dia meminta hijab itu disingkapkan, Allah tidak menuruti, tetapi Ia memberikan pelajaran telak kepada hamba-Nya sehingga pingsan dan sadar kelemahan diri. Manusia memang tidak akan sanggup melihat Allah. Jangankan cahaya Allah, memandang matahari pun mata manusia akan terbakar.

Tetapi kelak di akhirat, melihat Allah merupakan puncak kenikmatan ahli surga. Lebih mulia dari kenikmatan istana, kebun, buah-buahan, dan bidadari surgawi. Ketika para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, akankah kita kelak bisa memandang Allah?” Beliau menjawab, “Kalian akan memandang-Nya sebagaimana kalian memandang bulan purnama raya. Dan setelah itu para ahli surga tidak mau lagi memalingkan wajah mereka dari memandang Allah.” Subhanallah.

Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri, ulama Pakistan pendiri Idarah Minhajul Qur’an di Lahore, memiliki kiat untuk bisa “melihat” Allah di dunia. Ia menguraikan makna ihsan secara berbeda dalam bukunya Islamic Philosophy of Human Life. Ketika malaikat Jibril bertanya tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah saw. lalu dijelaskan oleh beliau, Jibril berkata, “Kamu benar.” Lalu Jibril bertanya lagi, “Apakah ihsan itu?” Rasul menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia, maka bila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” Jadi, ihsan adalah beribadah dengan merefleksikan sifat Allah, al Bashir, Yang Maha Melihat.

Tetapi bagaimana kita bisa beribadah seolah-olah melihat Dia? Menurut Prof. Tahir al-Qadri, kalimat hadis tadi harusnya dipenggal secara berbeda, bukannya fa in lam takun tarohu, tetapi fa in lam takun, tarohu. Terjemahnya ialah, “Maka bila kamu tidak ada, kamu akan melihat Dia”. Allahu Akbar.

Rupanya penghalang untuk bisa melihat Dia adalah sikap mendewakan diri. Ketika seseorang masih mempertahankan keberadaannya, masih mementingkan eksistensinya, masih mendahulukan kepentingannya, ia tidak akan bisa “melihat” Allah. Ia tidak akan bisa menghayati kebesaran-Nya. Ia tidak akan bisa mengerti keadilan-Nya. Ia tidak akan bisa menyaksikan keindahan-Nya. Ia tidak akan bisa merasakan kehangatan kasih sayang-Nya. Maka untuk bisa khusyu’ seolah-olah melihat Dia, kita harus meleburkan diri, menghancurkan diri, bagaikan gunung yang sirna mencair oleh tajalli, cahaya Allah. Semakin larut kita menghampakan diri dalam fana, semakin jelas wajah Allah bagi mata hati kita. Ihsan adalah Zero Mind Process. Lenyapkan dirimu, kamu akan “melihat” Allah. Wallahu A’lam.


Editor :
PI
Source :
MaPI Mei 2005
Url :
http:// PercikanIman.ORG