CLOCKS

BERSATULAH BANGSAKU, HINDARI PERPECAHAN !

MARI KITA TINGKATKAN PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA

SELAMAT DATANG DI BLOG INI di blog ini

KEIMANAN SEORANG SERING TURUN DAN NAIK, BAGAIMANA CARANYA MENINGKATKAN KEIMANAN ITU?

Rabu, 15 Desember 2010

MENELANJANGI STRATEGI JIN, Aam Amiruddin


Menelanjangi Strategi JinAam Amiruddin, M.Si
Kode:K0021
Kategori:Dakwah
ISBN:-
Size:12 x 18 cm
Jml. Halaman:x + 160
Cetakan:
Harga:Rp. 27.500,-

Strategi jin telah terbongkar! Visi-misi, strategi, metode serta sarana yang mereka pergunakan untuk menyesatkan manusia telah diketahui. Sebuah research literature dan case study telah dilakukan untuk mengungkap fakta-fakta tersebut. Hasilnya, penelanjangan sebuah dunia yang selama ini dianggap terlalu menyeramkan untuk diketahui apalagi untuk diungkap kebenaran hakikatnya.

Dalam buku ini, Anda akan diajak 'melihat-lihat' potret kehidupan jin, potret kehidupan iblis dan setan, fenomena kemusyrikan, serta apa dan bagaimana sesungguhnya pengobatan dengan ruqyah. Perlu diketahui, jin itu bukan ilusi tapi realita. Mempercayainya tanpa dibimbing ilmu yang bersumber dari Al Quran dan sunah, dikhawatirkan akan menjerumuskan manusia pada kemusyrikan.

Ini mungkin tidak akan membuat mereka (jin) tinggal diam dan memang itulah yang akan selalu dilakukan. Jadi, tetap waspada

AddThis

MEMBONGKAR KESESATAN SYIAH (buku yg layak dibaca)


Membongkar Kesesatan SyiahSyeikh Muhammad Abdul Sattar At-Tunsawi
Kode:K0045
Kategori:Dakwah
ISBN:979-3838-13-2
Size:12 x 18 cm
Jml. Halaman:135
Cetakan:1
Harga:Rp. 24.500,-
Mereka memiliki Rukum Iman dan Rukun Iskam yang berbeda, begitu pula dengan kitab dan hadistnya.
Saat ini, bermunculan aliran-aliran yang menyimpang dari ajaran Islam yang kaffah. Walaupun ajarannya benar-benar menyimpang dari Al Qur'an dan As Sunnah mereka masih mengaku bahwa ajaran Islam yang mereka bawa adalah "Islam yang sebenarnya". Salah satunya adalah Syiah

Ajaran Syiah sangat menyimpang dari ajaran yang dibawa Rasululloh SAW. Mereka memiliki Rukum Iman dan Rukun Iskam yang berbeda, begitu pula dengan kitab dan hadistnya. Bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama syiah, Al Qur'an mereka pun berbeda dengan Al Qur'an yang diajarkan Rasululloh SAW.
AddThis

Satu Langkah Mudah Membaca Al-Quran
Yudi Imana

Kode:K0053
Kategori:Anak & Remaja
ISBN:-
Size:-
Jml. Halaman:78 + DVD
Cetakan:1
Harga:Rp. 49.000,-

Al-Quran merupakan pedoman hidup. Tapi hanya segelintir orang yang mampu membacanya dengan baik sesuai kaidah-kaidah ilmu tajwid, menghafal, dan memahaminya.

Bagaimana Al-Quran bisa menjadi pedoman hidup seorang muslim, bila membaca dan memahaminya saja tidak mampu? 191 juta jiwa penduduk muslim Indonesia dari total 220 juta jiwa penduduk Indonesia (64%) belum bisa membaca A-Quran. Sementara yang mampu membaca baru 36%, 16,8% sudah bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Dan yang bisa membaca, mentadaburi dan menafsirkannya baru sebesar 3,6%, sedangkan yang mampu mengamalkannya hanya 0,02%.

Tidak tahu persis apa gerangan penyebab maraknya buta huruf Al-Quran tersebut. Padahal saat ini, berbagai metode mempelajari Al-Quran telah berkembang dan tersebar di berbagai pelosok penjuru tanah air. Patut dijadikan bahan telaah, walaupun metode yang berkembang cukup banyak, namun hanya sedikit metode yang mampu dengan cepat difahami dan diaplikasikan. Sehingga penggunanya dalam waktu relatif singkat bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Berbeda dengan metode lain pada umumnya, kini telah hadir metode belajar Al-Quran terbaru dengan nama metode ‘Asyarah. Buku berjudul 1 langkah mudah membaca Al-Quran karya Ustadz. Yudi Imana ini diyakini mampu mengantarkan setiap orang agar mampu membaca Al-Quran secara cepat dan mudah. Selain itu, metode ini pun memiliki 9 keunggulan yang akan diperoleh, antara lain :

1. Serially, pembelajaran huruf hijaiyah dipelajari sesuai urutan tempat keluarnya bunyi huruf hijaiyyah.

2. Systematic, materi disusun secara bertahap dengan enam sesi pembelajaran.

3. Simple, materi disajikan lebih sederhana dengan menyajikan materi pokok-pokok dasar tilawah saja.

4. Interactive, menggunakan media DVD dalam pengajarannya.

5. Exercise, melatih materi yang telah dipelajari.

6. Rhytm, menggunakan irama khas dalam pembacaannya sesuai kaidah dasar tahsin tilawah.

7. Song, disertai dengan enam lagu pembantu dalam pembelajaran di kelas.

8. Standard, materi sudah melalui proses pentashihan sesuai standar.

9. Research, telah melalui proses penelitian para mahasiswa dalam penyusunan skripsi dan mendapat dari para ahli dibidangnya.

Anda penasaran untuk segera membuktikan betapa mudahnya belajar Al-Quran dengan menggunakan metode ‘Asyarah? Miliki bukunya dan Anda pun akan segara menjadi sahabat Al-Quran. Amin. (Sunaryo)

AddThis
Melihat Allah di Sinai
Empatratus kilometer ke arah tenggara Kairo, setelah melintasi terusan Suez, kita akan sampai di Semenanjung Sinai.


Empatratus kilometer ke arah tenggara Kairo, setelah melintasi terusan Suez, kita akan sampai di Semenanjung Sinai. Di sana, ada sebuah gunung menjulang setinggi 2642 meter bernama Jabal Katharina.

Di lerengnya, ada biara tertua yang dibangun tahun 331 M, Monastery St. Catharine. Yang menarik, di dekatnya ada lagi gunung yang lebih rendah. Tingginya 2285 meter. Gunung ini bernama Jabal Musa. Kita harus mendaki malam hari agar bisa mencapai puncaknya di pagi hari, untuk menyaksikan pemandangan yang sangat mencekam. Batu-batu hitam raksasa di puncaknya tampak meleleh membeku seolah bersujud. Konon, di puncak inilah Nabi Musa a.s. memohon agar bisa melihat Allah.

Peristiwa ini diabadikan dalam surat Al A’raf (7) ayat 143, “Dan tatkala Musa tiba di miqat lalu berkata, ‘Tuhanku, tampakkanlah diri-Mu supaya aku bisa melihat-Mu.’ Maka Tuhan pun berkata, ‘Kamu tidak akan bisa melihat-Ku , tetapi pandang saja gunung di seberangmu, bila dia tetap di tempatnya, maka kamu akan melihat-Ku’. Maka ketika Tuhannya menampakkan cahaya-Nya ber-tajalli kepada gunung, jadilah gunung itu hancur lebur. Maka Musa tersungkur pingsan. Dan setelah siuman dia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada-Mu dan aku akan menjadi orang mukmin pertama’.”

Kisah ini tercantum juga dalam kitab Qishashul Anbiya’ karangan Ibnu Katsir yang mencoba menjelaskan bahwa Nabi Musa a.s. adalah Kalimullah, orang yang mampu berbicara langsung dengan Allah. Namun dia hanya mendengar suara Allah dari balik hijab. Ketika dia meminta hijab itu disingkapkan, Allah tidak menuruti, tetapi Ia memberikan pelajaran telak kepada hamba-Nya sehingga pingsan dan sadar kelemahan diri. Manusia memang tidak akan sanggup melihat Allah. Jangankan cahaya Allah, memandang matahari pun mata manusia akan terbakar.

Tetapi kelak di akhirat, melihat Allah merupakan puncak kenikmatan ahli surga. Lebih mulia dari kenikmatan istana, kebun, buah-buahan, dan bidadari surgawi. Ketika para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, akankah kita kelak bisa memandang Allah?” Beliau menjawab, “Kalian akan memandang-Nya sebagaimana kalian memandang bulan purnama raya. Dan setelah itu para ahli surga tidak mau lagi memalingkan wajah mereka dari memandang Allah.” Subhanallah.

Prof. Dr. Muhammad Tahir al-Qadri, ulama Pakistan pendiri Idarah Minhajul Qur’an di Lahore, memiliki kiat untuk bisa “melihat” Allah di dunia. Ia menguraikan makna ihsan secara berbeda dalam bukunya Islamic Philosophy of Human Life. Ketika malaikat Jibril bertanya tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah saw. lalu dijelaskan oleh beliau, Jibril berkata, “Kamu benar.” Lalu Jibril bertanya lagi, “Apakah ihsan itu?” Rasul menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat Dia, maka bila kamu tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihat kamu.” Jadi, ihsan adalah beribadah dengan merefleksikan sifat Allah, al Bashir, Yang Maha Melihat.

Tetapi bagaimana kita bisa beribadah seolah-olah melihat Dia? Menurut Prof. Tahir al-Qadri, kalimat hadis tadi harusnya dipenggal secara berbeda, bukannya fa in lam takun tarohu, tetapi fa in lam takun, tarohu. Terjemahnya ialah, “Maka bila kamu tidak ada, kamu akan melihat Dia”. Allahu Akbar.

Rupanya penghalang untuk bisa melihat Dia adalah sikap mendewakan diri. Ketika seseorang masih mempertahankan keberadaannya, masih mementingkan eksistensinya, masih mendahulukan kepentingannya, ia tidak akan bisa “melihat” Allah. Ia tidak akan bisa menghayati kebesaran-Nya. Ia tidak akan bisa mengerti keadilan-Nya. Ia tidak akan bisa menyaksikan keindahan-Nya. Ia tidak akan bisa merasakan kehangatan kasih sayang-Nya. Maka untuk bisa khusyu’ seolah-olah melihat Dia, kita harus meleburkan diri, menghancurkan diri, bagaikan gunung yang sirna mencair oleh tajalli, cahaya Allah. Semakin larut kita menghampakan diri dalam fana, semakin jelas wajah Allah bagi mata hati kita. Ihsan adalah Zero Mind Process. Lenyapkan dirimu, kamu akan “melihat” Allah. Wallahu A’lam.


Editor :
PI
Source :
MaPI Mei 2005
Url :
http:// PercikanIman.ORG